Apakah ini Suiseki?

Di Korea, suiseki disebut Su-Seok, yang artinya ‘batu berumur tua'. Di China, batu-batu ini akrab dipanggil shangshe, yang artinya ‘batu-batu indah'. Di Jepang sendiri disebut suiseki, yang artinya ‘batu air'. Meski mempunyai banyak panggilan, pengertiannya tetap sama, yakni batuan bernilai seni tinggi yang tercipta secara alamiah akibat proses alam yang berhubungan dengan air. - wikimu.com -

Demam Korea yang melanda negeri tercinta Indonesia beberapa tahun terakhir, sedikit banyak berpengaruh terhadap gaya hidup dan tren dalam ber-fashion, selera kuliner maupun tujuan wisata yang berkiblat ke negeri Ginseng, Korea. Namun, jauh-jauh hari sebelum masuknya drama Korea yang saat ini tengah digilai oleh pemirsa di seluruh nusantara, ada suiseki (seni batu air) dan bonsai (tanaman kerdil). Seni batu suiseki sudah berabad-abad dikenal di semenanjung Korea dan negeri-negeri yang masyarakatnya bermata sipit, seperti Jepang, China maupun Taiwan, sempat populer di Indonesia belasan tahun silam. Loh...mendadak suiseki neh...?? Begini loh ceritanya....


Bukan suiseki loh..lalu?...ya batu kali biasa!
Saat trekking ke Air Terjun Tibarau di Rantih beberapa hari yang lalu, pulangnya saya membawa "oleh-oleh". Bukan buah-buahan atau apapun yang enak-enak, yang saya bawa pulang ini sama sekali ga bisa dimakan. Saya tergelitik untuk memungutnya, karena saya menganggapnya antik. Bukan sengaja mencari, tapi seringnya berjalan merunduk menghindari ranting-ranting pohon yang menghalangi, mengarahkan mata saya pada benda ini. Karena sungai berair jernih, tatkala tiba di tempat yang dangkal maka benda tersebut terlihat jelas. Adalah sebuah batu sungai. Besarnya sekepal genggaman orang dewasa. Karena berlobang, di dalamnya penuh oleh pasir. "Suiseki!" tanpa pikir panjang saya memungutnya dengan suka cita. Semula saya berpikir batu tersebut benar-benar suiseki karena ketidaktahuan saya tentang seni batu suiseki. Pikir saya lubang pada batu terjadi akibat gerusan air sungai sekian lama, makanya saya asumsikan sebagai suiseki.

Sesampai di rumah, istri saya tertawa saat mengambil batu tersebut dari tangan saya. Senada dengan pendapat saya. Antik katanya. Tapi kemudian dahinya berkerut manakala membaca deretan huruf pada monitor. Meyakinkan kepada saya, batu tersebut bukan suiseki karena cirinya tidak sesuai dengan keterangan yang dia baca tentang seni batu suiseki. Penasaran, saya membandingkan dengan gambar2 suiseki asli yang terpampang pada layar, memang tak ada kesamaan antara batu yang saya bawa dengan batu suiseki. Batu saya terlihat rapuh. Sementara batu suiseki berpartikel padat yang terbentuk menarik secara alami. Biarpun bukan batu suiseki saya tetap menyimpannya. Lumayan unik dijadikan asbak rokok, seperti saran istri.

Sejujurnya, sejak dulu saya belum berminat mengetahui suiseki lebih serius. Saya juga belum pernah mengamati batu suiseki dari dekat. Selama ini hanya melihatnya sekilas pandang, itupun dari kejauhan. Dari atas motor yang melaju kencang atau dari balik kaca mobil yang gelap; saat melewati perempatan lampu merah Pandan, Kota Solok, -+ limaratus meter dari tikungan yang mengarah ke Kota Padang. Di pekarangan sebuah rumah, berbaris batu air yang tak jarang memenuhi halaman dengan size bervariasi.  Sepertinya batu-batu tersebut sengaja dipamerkan untuk dijual. Saya pernah melihat batu yang ukurannya cukup besar. Sebesar almari pintu dua, bentuknya menyerupai Rumah Gadang. Rupanya batu suiseki ini cukup banyak peminatnya, terbukti batu yang dipajang selalu berganti secara berkala. Konon, Sumatera Barat dianggap sebagai ladang batu suiseki, maka tak heran jika dijumpai "lapak langka" yang menggelar batu-batu nan antik ini.

0 Response to "Apakah ini Suiseki?"

Post a Comment

MAAF KOMENTAR SPAM KAMI HAPUS